Thursday, January 28, 2016

Waduk Mulur Sejarah dan Asal Usulnya

Sunset di Waduk Mulur

Bagi masyarakat Solo khususnya kalangan pemancing tentu tidak asing lagi dengan nama Waduk Mulur yang terletak di kecamatan Bendosari kabupaten Sukoharjo sebelah timur kota kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah . Waduk Mulur yang dibangun pada masa kolonial Belanda ini berumur sama dengan berdirinya negara Indonesia ini.
Jika anda hendak berkunjung ke Waduk Mulur melihat papan penunjuk arah dari pusat kota
Sukoharjo yaitu Mulur,Mertan dan Sugihan ini bekerja sebagai pengairan serta sarana rekreasi rakyat. Tugu Adipura Proliman ke arah timur 4km  sudah akan bertemu dengan tanggul. Luas waduk yang juga merupakan batas antar desa yaitu

Karamba Waduk Mulura

Ekonomi masyarakat sekitarpun meningkat seiring dengan dibangunnya kembali Waduk Mulur ini pada tahun 1999 yaitu penggantian pembangunan tanggul secara menyeluruh. Setiap hari lokasi ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal, terutama pemancing dan anak-anak yang setiap hari berkeliling dengan sarana sepur kelinci. Bagi para pelajarpun tempat ini sering dijadikan Bumi Perkemahan Waduk Mlur maupun acara olahraga karena memiliki lapangan yang luas sebagai sarana berolahraga.
Beberapa acara skala nasional pun pernah digelar di sini antara lain Perkemahan Pramuka Siswa Berkebutuhan Khusus di Waduk Mulur ini.

Senja melakukan Waduk Mulur

Waduk Mulur  juga rutin digunakan sebagai tempat latihan BASARNAS khususnya wilayah Sukoharjo dan sekitarnya, selain itu juga tempat latihan dari komunitas pecinta alam dari sekolah maupun universitas di wilayah karesidenan Surakarta.
Kontur alam yang tidak rata ini pernah digunakan seorang desainer sirkuit motorcross bahwa wilayah waduk Mulur saat itu sangat cocok untuk kegiatan motorcross untuk skala internasional.
Hal ini juga sebagai bahan bagi para pecinta kegiatan out door untuk melakukan kegiatan outbound di areal Waduk Mulur.

Beberapa acara Gathering Otomotif dan ulang tahun klub otomotif pun sering digelar di Waduk Mulur antara lain klub Vespa, Klub motor CB, Komunitas Trial, Komunitas Jeep, Komunitas Corrola dan sebagainya. Lokasi yang strategis dengan suasana pedesaan yang alami ini pemandangan yang elok menjadikan Waduk Mulur sangat cocok untuk acara acara besar. Dari konsumsi segi pun akan mudah karena banyak sekali warung-warung sepanjang jalan menuju ke Waduk Mulur.

Lokasi yang berada di jalan Sukoharjo-Jumapolo dengan akses jalan kelas 3 ini mudah dicapai hanya 10 menit dari pusat kota Sukoharjo sehingga memudahkan para wisatawan dari luar kota untuk mencapai Waduk Mulur. Aneka masakan kuliner seperti Bakso, Soto, Ayam Bakar, Nasi Goreng akan mudah dijumpai di sekitar Wisata Alam Waduk Mulur ini. Setiap bulan dipastikan selalu ada acara panggung hiburan yang diselenggaran oleh event organizer sebagai ajang promosi produk seperti Motor, Produk rumah tangga dan sebagainya.



Prasasti Waduk Mulura

Waduk Mulur merupakan salah satu peninggalan kolonial Belanda yang saat ini masih tetap bekerja dengan baik sebagai cadangan air untuk pengairan di wilayah Sukoharjo. Walaupun pernah pernah pada tahun 1998 Waduk Mulur tidak meninggalkan kesan produk kolonial Belanda dan masih tetap terjaganya sosok itu. Ketika Waduk Mulur dibuat wilayah ini masih dalam wewengkon atau perdikan dari Kraton Surakarta Hadiningrat yang dibuktikan dengan adanya prasasti yang masih terjaga di Pintu air utama Waduk Mulur. '

Raja Surakarta Paku Buwono ke 6

Setelah kemerdekaan RI otomatis hak kepemilikan Waduk Mulur menjadi milik negara Republik Indonesia , namun saat ini pengelolaan Waduk Mulur masih belum jelas sehingga Waduk Mulur tampak terbengkalai dengan tidak adanya penataan fasilitas umum. Menurut sumber yang dapat dipercaya saat mengelola secara fisik menjadi tanggung jawab PU, namun hanya sebatas sebatas aset-aset fisik dan tidak berkewenangan penuh atas pengelolaan finansial.
Sungguh sangat sayangkan jika aset semegah Waduk Mulur tidak bisa berdandan elok dan menjadi destinasi wisata tingkat daerah sedangkan nama waduk Mulur sudah masuk dalam tujuan memancing tingkat nasional.

Pulau Makam Badran

Penataan fisik Waduk Mulur memang sangat jauh dari kata layak untuk menjadi sumber referensi wisata karena masih belum adanya fasilitas pendukung, bahkan terkedan jorok dengan adanya berbagai macam sampah plastik di sekitar Waduk Mulur. Semoga ke depan ada pihak terkait yang segera turun tangan untuk pembenahan aset budaya dan sejarah nasional ini. Dok. Foto oleh Lek  Dawet Suket

Makam Kyai Sayidiman

Salah satu ikon di  Waduk Mulur  adalah  Makam Kyai Sayidiman  salah seorang pejuang berada pada zaman penjajahan Belanda ini tepat di bagian tengah Waduk Mulur .
Kyai Sayidiman merupakan salah seorang pejuang dari  Nyai Ageng Serang  dan merupakan bagian dari pasukan  Diponegoro . Menurut informasi  Kyai Sayidiman  merupakan salah satu pendiri perkampungan di  Waduk Mulur . Sehingga ketika perkampungan Waduk Mulur direlokasi untuk dijadikan Waduk makam ini tidak dipindahkan demi menghargai jasanya untuk kampung Mulur. Dari sumber yang kami baca sejarah adanya kampung (kini Desa Mulur) sangat erat dengan nama kedua tokoh tersebut. Dimulai dari masa perang Diponegoro yang akhirnya kalah karena penghianatan salah satu pengikutnya maka tampuk kepemimpinan diserahkan kepada RA Serang yang kemudian mengikuti perjuangan Pangeran Diponegoro dengan meminta perlindungan dari Raja Surakarta. Namun karena di kraton Surakarta sudah dikuasai oleh Belanda maka disarankan untuk mencari tempat perlindungan sendiri hingga akhirnya bertemu tempat bernama Goa Mertandan muncullah disitu. Dalam persembunyian tersebut menunggu keadaaan aman. Ada yang menceritakan bahwa nama Kampung Mulur berasal dari kata Mu gi-Mugi Sedu lur yang artinya siapan pun yang datang akan menjadi saudara dari ucapan Kyai Sayyidiman.
Waduk Mulur  pun menjadi salah satu tujuan wisata ziarah dengan adanya makam ini. Salah satu bukti sejarah bahwa perlawanan terhadap  Belanda  itu benar-benar adanya adalah makam ini.
Makam Kyai Sayidiman biasanya ramai dikunjungi oleh pengunjung yang ingin berdoa disini. Bagi para pemancing tempat ini pun menjadi salah satu tempat istirahat.
Baca juga  Goa Mertan
Namun perlu diketahuikarena semakin banyak pengunjung yang memberikan efek negatif antara lain sampah yang berserakan, Perlu adanya agar tempat-tempat ini lebih bersih dan memberikan nilai positif bagi kawasan  Waduk Mulur .

Jalan menuju Makam Kyai Sayidiman yang sudah di betonisasi

Tempat ini pun tidak memiliki juru kunci seperti pada makam-makam para tokoh zaman dahulu untuk saat ini. Beberapa waktu silam memang ada seseorang yang mengaku juru kunci namun saat ini sudah meninggal. Pada hari tertentu tempat ini dikunjungi para peziarah. Hal yang menarik tempat ini memang memiliki sesuatu hal yang menarik.
Aura mistis memang masih kental di sini, namun bagi yang tidak mengganggu tentu juga tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan yang akan terjadi. Pernah ada offroader pemula yang tampaknya tidak menghormati tempat ini dengan menginjak bagian makam dengan mobil offroadnya, beberapa saat kemudian mobil tersebutpun mogok dan berhenti tanpa sebab yang jelas.
Hal-hal mistis memang ada di tempat seperti  Waduk Mulur, asalkan kita tidak melakukan yang jahat dan tetap berlaku sopan tentu tidak menjadi masalah. Berikut ini adalah nama-nama kampung di sekitar  Waduk Mulur
1.  Kampung Mulur : merupakan akses utama menuju ke Waduk Mulur. Kampung yang berada di sisi selatan waduk Mulur ini adalah pusat kota Kecamatan Bendosari. Disini terdapat pasar yang menjadi pusat perekonomian rakyat sekitar Waduk Mulur. Kampung Mulur lebih terasa ramai dibandingkan dengan kampung-kampung lainnya di sekitaran Waduk Mulur.
2.  Kampung Tegalrejo: kampung ini berada di sisi Timur Waduk Mulur tepatnya sebelah timur Lapangan Pringgondani. Kampung yang sesuai dengan namanya yaitu Tegal (ladang) dan Rejo (ramai) dulunya pertanian memang hanya berupa. Seiring perkembangan akhirnya menjadi ramai karena keberadaan Waduk Mulur.
3.  Kampung Balesari: kampung ini terletak keindahan dengan kampung Tegalrejo. Kampung ini dulunya merupakan kampung utama di sisi timur Waduk dan akhirnya karena perkembangan jumlah rumah penduduk yang terpecah menjadi 2 yaitu Balesari. Kampung Balesari dulunya merupakan kesatuan dari sisi timur lapangan saat ini hingga sebelah timur mentok aliran irigasi menuju Waduk Mulur. secara administratif kampung Balesari lebih tua dari kampung Tegalrejo. Bale (rumah) dan sari (inti) merupakan asal berdirinya nama kampung ini yang berarti tempat utama untuk bermukim.
4.  Kampung Karanglo: berada setelah irigasi sisi timur Waduk Mulur. Kampung ini berasal dari kata Karang (padas) dan Loh (subur) artinya kampung ini dahulunya bekas ladang yang bertanahkan padas namun karena adanya saluran irigasi dari Dam Pepen ke waduk Mulur.
5.  Kampung Kentheng : berada sebelah utara dari kampung Karanglo dan berada di timur waduk Mulur. Jika waduk udara Mulur terisi penuh maka airnya sampai pada sisi barat kampung ini.
6.  Kampung Godok : sama hal nya dengan kampung Ketheng,berada pada satu jalur di sisi timur Waduk Mulur. Dikampung ini terdapat tower Telkomsel sehingga sering disebut sebagai spot Tower.
7.  Kampung Badran: berada di sisi utara waduk Mulur. Badran merupakan perbatasan desa Mulur dengan desa Sugihan.
8.  Kampung Pojok : sesuai namanya kampung ini berada di sebelah pojok antara sisi barat dan utara Waduk Mulur.
10.  Kampung Sukosari : Berada pada sisi barat tanggul Waduk Mulur. Kampung ini berada lebih rendah dari Waduk Mulur. Kampung Sukosari merupakan tempat administratif kecamatan Bendosari.
Kantor Kecamatan,Polsek,Koramil,Kantor Pendidikan dan Puskesmas Bendosari berada di kampung ini.

Demikian tadi ulasan mengenai   Waduk Mulur dan sejarah terkait  Makam Kyai Sayidiman  salah satu pendiri kampung Mulur serta yang patut kita teladani dalam semangatnya mengusir Belanda serta mempertahankan wilayah Indonesia ini.

No comments:

Post a Comment